Senin, 08 Januari 2018 - 10:43:18 WIB
Siklus Krisis Ekonomi Tak Akan Timpa Indonesia
Kategori: Ekbis - Dibaca: 2108 kali

Jakarta (Sioge) - Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan menilai krisis ekonomi siklus 10 tahunan yang sebelumnya menerpa Indonesia tahun 1998 dan 2008 tidak akan kembali terjadi.

“Sampai detik ini, saya tidak melihat ada tanda-tanda ekonomi kita akan bermasalah,” ujar Luhut di Jakarta, kemarin.

Isu mengenai siklus krisis ekonomi setiap 10 tahun merujuk pada krisis yang terjadi pada 1998 dan 2008. Penyebab utama krisis 1998 adalah nilai tukar mata uang terutama di Asia yang tidak fleksibel, serta tidak ada sinkronisasi terhadap kurs dan capital inflow (arus modal masuk). Sedangkan penyebab krisis 2008 salah satunya akumulasi dari risiko perkembangan teknologi.

Luhut mengatakan sampai saat ini tidak ada satu pun indikator ekonomi yang mengatakan Indonesia akan mengalami krisis. Selain itu, kata dia, tak ada pula institusi internasional yang menyebut Indonesia punya masalah. “Kalau ekonomi nasional akan bermasalah pasti ada tanda-tandanya, layaknya orang sakit pasti ada gejala-gejala,” katanya.

Menurut Luhut, jika dibandingkan dengan rating dunia pada 2015, 2016, dan 2017, maka terlihat keadaan ekonomi Indonesia terus meningkat. Hal itu, kata dia, juga sejalan dengan stabilitas politik dan keamanan nasional.

Saat ini, kata Luhut, Indonesia sendiri telah dimasukkan dalam kelompok lima besar ekonomi dunia. Dia menyebutkan hal itu sejalan dengan ramalan The World Economic Forum dan PricewaterhouseCoopers yang memproyeksikan tahun 2030 Indonesia akan memiliki Produk Domestik Bruto (PDB) di peringkat 5 dunia dengan US$ 5,424 triliun. “Angka ini di atas PDB negara maju seperti Jerman atau Prancis,” ucapnya.

Negara yang sekarang menduduki posisi pertama kelompok lima besar ekonomi dunia adalah Tiongkok dengan PDB sebesar US$ 38,008 triliun. Sedangkan di posisi kedua ada Amerika Serikat dengan PDB sebesar US$ 23,475 triliun. “Kita (Indonesia) sedang bergerak ke sana,” tutur Luhut.

Lebih lanjut Luhut berpendapat kesenjangan ekonomi di Indonesia sendiri sudah dapat dikurangi jauh lebih baik. Hal itu terlihat dari Rasio Gini yang terus menurun. “Dari data Badan Pusat Statistik (BPS), koefisien gini tercatat di angka 0,391 pada September 2017, menurun dari September 2014 di 0,414,” ujarnya.

Luhut Pandjaitan menambahkan jikalau ada masa perlambatan ekonomi di Indonesia, hal itu terjadi bukan 10 tahunan, melainkan rata-rata 7 tahunan. Namun, saat perlambatan ekonomi hampir terjadi pada tahun 2016, pemerintah bisa mengendalikan siklus bisnis dengan baik. Seperti mempercepat belanja infrastruktur, mengendalikan harga pangan, serta mencairkan program-program yang menyentuh kemiskinan. “Mungkin sebagian dari kita tidak sadar bahwa di 2016 Indonesia telah lolos dari resesi,” ucapnya. (t/*)




Isi Komentar :
Nama :
Komentar
 
 (Huruf Apa Itu ?)