Kadin Akui Ekonomi RI Sangat Sensitif dengan Kondisi China
08 Februari 2020 - 02:05:49 WIB | Dibaca: 3560x
Jakarta (SIOGE) – Para pengusaha yang tergabung dalam Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengaku, optimistis bahwa ekonomi dunia dan Indonesia akan membaik pada 2020. Itu dipastikan akan terjadi meskipun pada 2019 ekonomi melemah akibat eskalasi perang dagang dan gejolak geopolitik di berbagai wilayah.
Ketua Umum Kadin, Rosan Perkasa Roeslai mengatakan optimisme itu juga pada dasarnya merupakan konsensus pelaku ekonomi seluruh dunia yang disampaikan saat World Economic Forum di Davos, pada Januari 2020. Namun optimisme itu seketika memudar karena adanya virus corona.
"Konsesus menyatakan begitu, tapi dengan adanya virus corona, jadi catatan sendiri," kata dia di acara Business Gathering Kadin, Apindo dan Hipmi di Jakarta, Jumat, 7 Februari 2020.
Dia menilai, virus tersebut mampu membuat ekonomi China anjlok satu sampai 1,5 persen pada tahun ini. Padahal, diperkirakan ekonomi China pada tahun ini, dikatakannya, masih bisa tumbuh di kisaran enam persen namun menjadi di kisaran 4,5 persen akibat virus tersebut.
Yang membuat berbahaya bagi iklim bisnis di Indonesia, kata Rosan, ekonomi Indonesia sangat sensitif dengan kondisi ekonomi di China. Jika negara itu mengalami penurunan pertumbuhan satu persen, Rosan mengatakan, ekonomi Indonesia bisa terdampak turun hingga 0,3 persen.
"Ke kita 0,3 persen. Karena 15 persen dagang kita dengan China, US nomor dua 12 persen. Jadi efeknya ketika kedua negara itu turun diperkirakan akan alami hambatan buat kita," ujarnya.
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Haryadi Sukamdani mengatakan, virus corona memang telah membuat para pengusaha di Indonesia kelimpungan, terutama yang bisnis di sektor pariwisata. Sebab, akibat virus itu, khusus di Bali, dikatakannya sudah terjadi 40 ribu pembatalan pesanan kamar hingga 20 ribu penumpang yang membatalkan penerbangan.
"Ini yang harus kita hati-hati juga hadapi situasi begini, kita enggak pernah terbayang penyebaran corona virus lebih cepat dari SARS meski mematikannya lebih SARS," paparnya.(viva)






















